Tema Kotbah kita di bulan Juli ini adalah hidup dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan. Berbicara tentang “tidak tergoncangkan”, saya ingat minggu lalu kami ada pertemuan pengerja Living World. Tidak tergoncangkan artinya adalah kokoh.
Pak Solihin sempat memberikan pertanyaan waktu itu, “Kenapa tembok Cina bisa kokoh berdiri?” Mendengar jawabannya, saya tertawa juga. Kenapa? Karena yang membangun katanya kokoh-kokoh (koko-koko), bukan cici-cici, sehingga bangunannya kokoh.
Nah, hari ini kita bicara tentang sesuatu yang tidak tergoncangkan, yaitu hidup dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan. Ibrani 12:28 mengatakan demikian:
“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut.”
Kita tahu keadaan dunia saat ini tidak baik-baik saja. Bahkan Indonesia juga sedang tidak baik-baik saja. Namun, puji Tuhan, kita adalah warga Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan.

Walaupun kita masih berada di muka bumi ini—sehingga kita masih mendengar berita-berita yang tidak baik tentang ekonomi, keuangan, politik, bahkan ikut merasakan inflasi saat membeli barang-barang yang naik harganya—kita harus tetap ingat bahwa kita berada di dalam Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan. Maksudnya, benar kita ada di muka bumi ini, tetapi kita adalah warga dari Kerajaan Allah yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih hebat daripada bumi yang sekarang kita injak ini.
Contoh perumpamaannya seperti ini: bayangkan jika kita menjadi duta besar Republik Indonesia yang diutus ke negara Jepang. Status warga negara kita tetap Indonesia. Walaupun di Jepang sering terjadi gempa bumi dan kita ikut mengalaminya saat berada di sana, kita tahu bahwa kita adalah warga negara Indonesia dan di Indonesia sendiri saat itu tidak ada gempa. Ini hanyalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan bahwa kita berada di dalam kerajaan yang luar biasa besar dan luar biasa kokoh.
Ada lima keuntungan hidup di dalam Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan:
1. Mempunyai Kuasa Kerajaan Allah
1 Korintus 6:17 berkata:
“Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.”
Pada saat Tuhan Yesus naik ke surga, kita tidak ditinggalkan sendirian. Dia menjanjikan Roh Kudus, dan Roh Kudus itu tinggal di dalam diri kita, manunggal bersama dengan roh kita. Artinya, Dia menyatu dengan kita sehingga kita punya kuasa yang luar biasa karena Allah sendiri diam di dalam diri kita.
Oleh karena itu, saat kita berpikir dan bergerak, maka Roh Allah yang ada di dalam diri kita tentunya juga bersama-sama dengan kita. Inilah mengapa penting bagi kita untuk senantiasa berdoa, memuji, menyembah Dia, dan berbahasa roh. Selain menyenangkan hati Tuhan, berdasarkan penelitian, pada saat kita berdoa, memuji, menyembah Tuhan, dan berbahasa roh, hal itu dapat mengurangi stres, menenangkan pusat emosi, menumbuhkan rasa damai, serta meningkatkan fungsi kognitif (cara kerja otak dalam berpikir). Sehingga pada saat ada masalah dalam hidup, ketika kita berdoa, memuji, menyembah Tuhan, dan berbahasa roh, masalah-masalah kita akan terurai dan ada jalan keluar.
2. Mempunyai Kunci Kerajaan Sorga
Matius 16:19 mengatakan demikian:
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Kunci Kerajaan Sorga ini sudah diberikan kepada gereja-Nya, yaitu kepada setiap dari kita. Jadi, kita punya kuasa di dalam hidup ini. Berdoalah, menyembahlah, dan berbahasa rohlah sambil memperkatakan ayat-ayat firman Tuhan. Kenapa demikian? Karena di dalam diri kita ada kuasa, dan firman Tuhan itu sendiri berkuasa.
Sehingga, segala sesuatu yang kita doakan tanpa kebimbangan pasti akan terjadi. Yang penting kita belajar untuk beriman dan percaya. Jika kita merasa kurang percaya, tambahkan dengan imajinasi bahwa hal yang kita doakan itu sudah terjadi untuk memperkuat iman kita.
3. Tidak Terbatas
Roma 8:5 berkata:
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.”
Belajarlah agar hidup kita tidak dibatasi oleh daging atau kelemahan tubuh. Kita ditakdirkan untuk hidup dalam Roh, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:16:
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
Artinya, seiring bertambahnya umur, kehidupan rohani kita harus terus meningkat. Sesungguhnya kita adalah manusia roh karena roh kita manunggal dengan Roh Kudus, yaitu Roh Allah sendiri. Roh kita itu kuat—lebih kuat daripada jiwa dan tubuh kita. Sesuatu yang kuat harus lebih menguasai dan lebih unggul.
2 Petrus 1:13 mengatakan:
“Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini.”
Tubuh ini diibaratkan seperti kemah yang tidak permanen, tetapi rohlah yang permanen dan tidak terbatas. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk meningkatkan keintiman dengan Tuhan.
Sesuai dengan Roma 8:11, dikatakan:
“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”
Ini berarti jika kita mau sehat, bukan hanya sekadar menjaga makanan dan berolahraga saja, tetapi Roh Kudus yang diam di dalam diri kita juga berkuasa menghidupkan sel-sel tubuh, stem cell, serta organ-organ tubuh kita yang lemah. Dia akan menghidupkan tubuh kita yang fana. Jadi, penting sekali untuk meningkatkan keintiman dengan Tuhan supaya kita tetap terkoneksi dan bisa terus mengisi ulang (charge) baterai roh kita bersama Dia. Bahkan kita harus mengerti bahwa karena Roh Kudus ada di dalam diri kita, saat kita mengalami kesulitan atau masalah, kita harus percaya bahwa tangan Tuhan sedang menopang kita. Ketika berada dalam kesulitan, percayalah bahwa Dia sedang mengajarkan kita untuk terbang lebih tinggi lagi bersama-sama dengan Dia. Kesulitan-kesulitan tersebut adalah proses untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi.
4. Chosen (Terpilih dan Dikhususkan)
1 Petrus 2:9 mengatakan demikian:
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”
Status terpilih ini sama seperti Bani Lewi di dalam Perjanjian Lama yang dikhususkan. Ada satu perjanjian khusus antara Allah dengan kita, sama seperti perjanjian khusus antara Allah dengan Abraham.
Sebagai contoh, kisah Abraham dengan Lot dalam Kejadian 13:8-11:
Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan; jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”
Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnya bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. Sebab itu Lot memilih bagi dirinya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.
Di sini, Lot memilih tempat yang terbaik pada saat itu, yang digambarkan seperti taman Tuhan atau Taman Eden. Namun, mari kita baca kelanjutannya dalam Kejadian 13:14-15:
Setelah Lot berpisah dari padanya, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kauhatas itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.”
Ingatlah bahwa ada perjanjian Tuhan dengan Abraham, orang yang dipilih-Nya. Begitu pula ada perjanjian secara khusus antara Tuhan dengan kita. Perjanjian itu dibuat dengan Abraham, bukan dengan Lot. Sehingga, walaupun Abraham menerima wilayah sisa yang kelihatannya tidak baik, Abraham-lah yang tetap diberkati Tuhan. Kita tahu pada kisah selanjutnya bahwa Abraham yang menolong Lot dari tawanan, bahkan Lot sampai akhirnya tidak memiliki apa-apa lagi.
Karena itu, ingatlah selalu untuk tetap dekat dengan tabut Tuhan, dekat dengan Pemilik Berkat. Perjanjian-Nya ada pada kita, bukan pada orang lain, sehingga apa pun yang terjadi dalam hidup ini, kita adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Perjanjiannya sudah ada, masalahnya sekarang tinggal pada respons kita. Karena kita hidup dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan, saya mau mengajak setiap kita untuk memperkatakan kalimat ini bersama-sama sebanyak tiga kali:
“Saya orang yang diberkati Tuhan. Saya orang yang diberkati Tuhan. Saya orang yang diberkati Tuhan.”
5. Bersyukur dengan Keadaan Kita Saat Ini
Kolose 4:2 berkata:
“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.”
Kita harus mengucap syukur dalam segala hal. Dalam persoalan apa pun yang kita hadapi di hidup ini, hadapilah dan akhirilah segala sesuatu dengan mengucap syukur kepada Allah, serta beribadahlah dengan hormat dan takut akan Dia.
Sebagai kesimpulan, inilah lima keuntungan hidup dalam Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan:
- Mempunyai kuasa Kerajaan Allah.
- Mempunyai kunci Kerajaan Sorga.
- Tidak terbatas.
- Chosen (Terpilih dan dikhususkan).
- Bersyukur dengan keadaan kita.
Kita berada di dalam Kerajaan Allah yang kekal. Kerajaan ini tidak pernah bisa dikudeta, tidak pernah bangkrut, dan tidak pernah kalah perang. Semua kerajaan besar di dunia ini pernah runtuh—apakah itu Babel, Romawi, Persia, maupun Yunani—semuanya sudah tidak ada lagi. Namun, Kerajaan Allah berdiri untuk selama-lamanya. Hukumnya, yaitu firman Tuhan, adalah sempurna, dan Rajanya memiliki kasih yang tidak terbatas.
Oleh karena itu, bagi setiap kita yang ingin hidupnya tidak tergoncangkan, jagalah hubungan baik dengan Sang Raja. Memiliki jaringan relasi (network) itu penting, dan yang terpenting adalah apakah kita memiliki relasi dengan Sang Raja? Hiduplah intim dengan Dia.
Mari kita katakan tiga kali lagi bersama-sama:
“Saya mau hidup intim dengan Tuhan. Saya mau hidup intim dengan Tuhan. Saya mau hidup intim dengan Tuhan.” (DR)


